Ksatria Pancasila
Org(anisasi)asme: Menikmati Pergerakan Mahasiswa*

Bila suatu kelompok berhasil, pujilah anggota-anggotanya. Dan apabila suatu kelompok gagal salahkan pemimpinnya. Begitu sulit menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin paripurna mutlak memiliki kualitas-kualitas yang terintegrasi dalam dirinya: spiritual, moral, intelejensi, fisik, finansial, pesona dan leadership skill itu sendiri. Dan itu semua bukanlah kualitas yang bisa didapatkan dalam sekejap, maka dari itu kepemimpinan menjadi ilmu sekaligus seni yang paling kompleks di dunia ini.

            Februari hingga Maret 2011 ini sepertinya menjadi bulan-bulan penuh pergolakan bagi masyarakat di negara-negara Timur Tengah. Revolusi terjadi di mana-mana. Dimulai dari Tunisia, lalu memuncak di Mesir yang menarik negara-negara lain: Yaman, Suriah, Yordania, Aljazair ke megaarus revolusi. Kini puncak kedua gelombang revolusi Timur Tengah menghantam Libya dan menyeret Bahrain,Djibouti, Sudan, Oman, dan Maroko. Hal ini mengimplikasikan dua hal. Selain bahwa rakyat Timur Tengah semakin mengenal demokrasi dan berani memperjuangkan hak-hak sipilnya, ini juga membuktikan bahwa menjadi pemimpin adalah suatu hal yang tidak mudah. Menjadi pemimpin tidak sama dengan menjadi penguasa ataupun menjadi seorang pemenang dalam pemilu. Kepemimpinan adalah mengenai kepercayaan atas integrasi kualitas seorang individu.

            Belum genap tiga bulan kelegium kita melewati masa transisi kepemimpinan. Sudah semakin terasa degup darah berorganisasi kembali mengalir setelah lama beku. Open recruitment anggota baru, pembentukan kepanitiaan, pengurusan surat-surat tugas sudah menghiasi jejak pergerakan mahasiswa di kampus kita tercinta. Terakhir terlihat, di komputer ruang BEM, folder kesekretariatan sudah dipenuhi surat-surat dengan penomoran yang sudah mencapai 60-an. Itu berarti hampir setiap hari kestari BEM mengeluarkan surat resmi. Wow!!!

            Meskipun masih dengan banyak kekurangannya, kita patut berbangga dengan kolegium yang kita miliki ini. Kehidupan kemahasiswaan yang ada sudah mapan dan secara kontinyu melakukan kegiatan-kegiatan bagi pengembangan kualitas mahasiswa. Tidak ada permasalahan yang begitu besar sehingga menimbulkan konflik intern dan antar pihak. Relasi dengan stakeholder juga terjaga dengan baik, sehingga ruang kita untuk melakukan pergerakan terasa cukup lega. Itu hanya salah satu potensi yang dimiliki disamping berbagai potensi-potensi lain yang siap disinergiskan untuk menuju kolegium yang lebih baik.

            Namun, sadarkah bahwa pembangunan kolegium ini hanya milik beberapa orang? Sebuah pemeo yang sering terdengar bahwa mahasiswa yang aktif di kegiatan kemahasiswaan adalah 4L (loe lagi, loe lagi). Memang, tanpa perlu disurvey secara formal, ketergerakan mahasiswa untuk ikut serta dalam membangun kolegium masih dirasa kurang. Bila ditelusuri ada beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena ini: merasa tidak punya kemampuan, merasa tidak mendapat manfaat, suasana yang tidak menyenangkan yang ada di dalam organisasi, dll. Di satu sisi aktifis-aktifis kemahasiswaan mengalami fenomena yang dinamakan ke-multi-amanah-an, sedangkan di sisi lain ada mahasiswa yang mengalami musibah nganggur-luar-biasa-nggak-ada-kerjaan.

            Kembali ke peran pemimpin. Inilah yang harus menjadi tanggung jawab para pemimpin di kolegium. Visi dan misi BEM seharusnya bukan hanya milik pengurus BEM dan pengurus lembaga saja, namun hendaknya menjadi pedoman arah gerak seluruh mahasiswa, seluruh anggota kolegium, yang notabene adalah anggota BEM juga. Peningkatan soft skill, peningkatan wawasan kebangsaan, skill kepemimpinan, dll. bukan hanya milik pengurus lembaga, namun hendaknya semua anggota kolegium dapat mendapatkan dirinya dikembangkan bersama-sama dengan pengurus yang lain.

Kita tinjau lagi bagian awal artikel ini yang menyatakan bahwa “bila suatu kelompok gagal, salahkan pemimpinnya” karena sang pemimpin tidak mampu menggerakkan potensi segala sumber daya yang ada untuk mencapai keberhasilan. Selama ini kita sering memberikan label SO pada mahasiswa yang membatasi diri dari kegiatan selain belajar dan semacamnya. Mulai sekarang cara pandang yang seperti ini patut diubah. Alih-alih menyalahkan mahasiswa yang belum tergerak untuk mengaktifkan diri, pemimpinlah yang seharusnya bisa mendorong, menggerakkan, dan menginspirasi semua kalangan untuk bisa ikut serta berkontribusi bagi kolegium.

Pergerakan mahasiswa adalah sesuatu yang seharusnya bisa dinikmati, layaknya udara segar di pagi hari, es krim vanila di siang hari, matahari terbenam di senja hari, dan pelukan kekasih di malam hari. Bukan sekedar rutinitas menjalankan proker dengan dikejar-kejar deadline dan segala basa-basi non esensial yang menghilangkan jiwa pergerakan mahasiswa itu sendiri.

Diakui atau tidak, fenomena ini masih menjadi misteri yang belum diketahui asal mula penyebabnya hingga akhir penyelesaiannya. Hal yang memang tidak mudah dicari jalan keluarnya. Yang pasti, pemimpin lembaga sebagai ujung tombak kolegium mahasiswa FKUB hendaknya telah siap memegang amanahnya untuk merespon terhadap segala sesuatu yang menjadi aspirasi rakyatnya. Dengan demikian, pembangunan bukan hanya milik lembaga tertentu, organisasi tertentu, golongan tertentu, dan orang-orang tertentu. Pembangunan yang kita cita-citakan, pembangunan dari, oleh, dan untuk kolegium.

            Semoga  barisan kata-kata ini bisa menyadarkan kita untuk dapat mengambil peran kita masing-masing demi kemajuan kolegium dan bangsa Indonesia. Ada baiknya artikel ini ditutup dengan kutipan salah satu tokoh terbesar yang pernah dimiliki, bukan hanya oleh Indonesia, tapi juga oleh dunia: “Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” ( Soekarno, Pidato di Surabaya, 24 September 1955 ). Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! NKRI Harga Mati! (ADN)

 

Diterbitkan di Majalah Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, “HIPPOCRATES”

Kasta dan Tugas Modul

Ini salah satu tulisan saya yang pertama di tumblr ini. Hore.. akhirnya saya bisa memaksakan diri untuk menulis lagi.. :D Dalam tulisan saya yang pertama ini saya pengen cerita tentang dunia perKASTAan di kampus saya, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) khususnya Jurusan Pendidikan Dokter (PD). Kalau Anda kira saya mau ngomong tentang sejarah agama Hindu atau keturunan Raja-Raja Hindu yang berkuliah di FKUB Anda salah besar, karena saya sendiri juga nggak tahu apakah beneran ada keturunannya di sini. Okey, kasta memang istilah Hindu, lebih lengkapnya saya copy-kan langsung dari Wikipedia:

Kasta dari bahasa Portugis adalah pembagian masyarakat. Kasta yang sebenarnya merupakan perkumpulan tukang-tukang, atau orang-orang ahli dalam bidang tertentu, semestinya harus dibedakan dari warna atau Catur Warna (Hindu), karena memang pengertian di antara kedua istilah ini tidak sama. Pembagian manusia dalam masyarakat agama Hindu:

  1. Warna Brahmana, para pekerja di bidang spiritual ; sulinggih, pandita dan rohaniawan.
  2. Warna Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan.
  3. Warna Waisya, para pekerja di bidang ekonomi
  4. Warna Sudra, para pekerja yang mempunyai tugas melayani/membantu ketiga warna di atas. 

Sedangkan di luar sistem Catur Warna tersebut, ada pula istilah :

  1. Kaum Paria, Golongan orang terbuang yang dianggap hina karena telah melakukan suatu kesalahan besar
  2. Kaum Candala, Golongan orang yang berasal dari Perkawinan Antar Warna

Ups.. ternyata beda ya antara kasta dan warna itu? Hehehe.. Yasudahlah, pokoknya dulu waktu SD kita tahu apa itu yg namanya kasta. Sekali lagi saya nggak ngomongin tentang kasta/warna dalam Agama Hindu, jadi yang mampir ke blog ini buat belajar agama, maaf Anda salah alamat. :P

Saya mau ngomongin kasta di bidang pengerjaan tugas Modul MKK Mahasiswa PD 2009 :D Laah..ngerjain modul aja kenapa dibikin berkasta-kasta? Bisa nggak nikah antar-kasta?? Hmm.. ntar.. tunggu dulu.. biarkan saya lanjutin dulu ya ceritanya.. Bagi yang belum tahu, mahasiswa jurusan PD angkatan 2009 itu terdiri dari +/- 260 mahasiswa yang terbagi di tiga kelas: A, B, dan KBI. Naah.. selain di tiga kelas besar itu, ada juga yang namanya kelas diskusi tutorial yang berisikan +/- 25 mahasiswa di tiap kelasnya. Di dalam kelas itu kami mendiskusikan tugas modul yang kami kerjakan malam sebelumnya. Dan spesies bernama TUGAS MODUL inilah yang kadang disikapi dengan berbagai macam tindakan oleh tiap-tiap mahasiswa. Dan inilah yang akan kita bicarakan kali ini.

 

1.    KASTA PENULIS KEBENARAN

Kasta yang tertinggi dalam pengerjaan tugas modul. Orang-orang di Kasta Penulis Kebenaran ini mengerjakan tugas modul dengan tulis tangan dan mencari jawabannya dari sumber sumber ilmiah: textbook, jurnal ilmiah, slide dosen, dll. Maba semester 1-2 masih banyak yang berada dalam kasta ini. Syarat masuk kasta ini: punya textbook minimal 1 GB, akses internet cepat untuk mengunduh jurnal, koneksi dari kakak tingkat untuk mendapat slide tahun lalu, overview modul, dan buku folio bergaris (biar langsung sobek halaman tengahnya untuk ngerjain modul). Efek samping dari keikutsertaan seseorang di kasta ini adalah hipertrophy thenar muscle dominant hand, secara kasta ini menghabiskan minimal DELAPAN halaman folio tiap malamnya. Efek samping lainnya adalah mulai tumbuhnya kantong mata. Kecepatan tulis maksimal dengan mencari jawaban sendiri adalah 2 halaman/jam, artinya butuh 4 jam untuk mengerjakan tugas delapan halaman folio. Inilah yang membuat saya dan kolega-kolega seperjuangan saya akhirnya tidak bisa tidur sebelum jam 00.00. MVP di kasta ini, yang telah memegang tampuk kekuasaan selama bersemester-semester adalah Andreas Budi Wijaya. Saya berani sumpah beliau TIDAK PERNAH TIDAK mengerjakan tugas modul dengan tulis tangan sendiri dan mencari jawabannya di textbook!!

2.    KASTA PENYALIN

Setingkat dibawahnya Kasta Penulis Kebenaran. Bedanya, orang-orang di kasta ini mengerjakan tugas modul dengan jawaban kakak kelas atau temannya. Kasta ini booming di kala kuliah Biosains 2, yang semua orang juga tahu bahwa itulah Kawah Candradimukanya anak PD generasi KBK. Orang-orang yang bermental lemah dari Kasta Penulis Kebenaran banyak yang terjatuh di kasta ini. Bahkan hampir 90% mengalaminya termasuk saya. Syaratnya: harus bergerak cepat mencari fotocopyan jawaban teman atau jawaban kakak kelas. Efek samping: sama dengan Kasta Penulis Kebenaran, hipertrophy thenar muscle dominant hand. Pembengkakan kantong matanya tidak akan separah Kasta Penulis Kebenaran karena proses kerja yang lebih cepat.

3.    KASTA PENCARI KEBENARAN

Saya sebut Kasta Pencari Kebenaran karena cara kerja mereka yang MENCARI jawaban dari referensi ilmiah (kebenaran), memindahnya di Microsoft Word, lalu mengeprint jawabannya tersebut (bukan penulis). Kasta yang cukup ideal menurut saya. Selain mendapat ilmu, orang-orang di kasta ini juga dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak. Syarat: punya laptop/komputer, punya printer/punya langganan tukang ngeprint, dan punya referensi seperti yang dimiliki Kasta Penulis Kebenaran. Bila mereka menggunakan sumber dari textbook/jurnal mungkin bisa saja dicopy-paste, namun saya tidak ingin menyebut mereka  kasta copy-paster atas sumber jawaban mereka. Saya pernah ada di kasta ini juga lho. Efek samping: bisa berlatih mengetik metode 10 jari, karena paparan radiasi laptop mungkin terjadi sedikit gangguan mata bagi yang matanya lemah, bagi yang imannya lemah saat mencari jawaban bisa terbelokkan ke situs yang tidak-tidak (FB misalnya..hayoo..pikirannya kmana-mana!!)

4.    KASTA COPY-PASTER

Softcopy jawaban modul tahun lalu menjadi kebutuhan primernya setelah sandang, pangan, dan papan. Tanpa warisan leluhur itu dia tidak akan bisa hidup dengan tenang. Kasta Copy-paster mengerjakan tugas modul dengan bertumpu pada jawaban tahun lalu, menambahkan dari sumber-sumber ilmiah kalau memang lagi niat, mengedit font, margin, line spacing, dll. kalau memang benar-benar niat. Faktor yang terpenting disini ialah mereka masih membaca soal dan jawaban tahun lalu, mengecek apakah jawaban tersebut benar atau tidak, dan mencari jawaban yang benar kalau misalnya jawabannya memang kurang lengkap atau ada soal yang baru. Memang, 90% soal modul dari tahun ke tahun adalah sama, fenomena inilah yang dimanfaatkan dengan cerdik oleh orang-orang di kasta ini. Kalau soalnya tidak sama, terpaksa mereka menjadi separo Pencari Kebenaran. Ini kasta paling nyaman apabila Anda seorang aktivis, punya kerja sambilan, atau punya pacar (ups). Saya terjun ke kasta ini saat Kawah candradimuka ke-2, Blok Respirasi Semester V, saat ada tugas modul+kuliah+ujian di tiga hari berturut-turut dalam satu minggu. Efek samping: jadi tahu apa arti Ctrl+C dan Ctrl+V.

5.    KASTA NAME-SWITCHER

Kasta yang kemungkinan besar ga bakal dapat ilmu di dunia per-tugasmodul-an kalau tidak mau menebusnya dengan bersungguh-sungguh dalam diskusi tutorial. Bagaimana tidak? Mereka beraksi dengan last-minutes-skill, dimana dalam 15 menit mereka sudah bisa mendapatkan paper jawaban tugas modul ditangannya. Woow.. bagaimana caranya? Ya, mereka hanya mengganti nama, NIM, angkatan, ruangan, dan tanggal dari jawaban modul kakak kelas. Praktis, efektif, cerdik, namun berisiko tinggi dan tidak etis.

6.    KASTA PHOTO-COPYER

Kasta yang terakhir. Alur kerjanya: meminjam jawaban teman à fotocopy dengan menutup bagian atas kertas tempat tertulis identitas penulis yang asli à menuliskan identitasnya sendiri di bagian atas kertas tadi. No comment dari saya, Anda pasti tahu sendiri orang-orang bagaimana yang ada di kasta ini. Daripada saya mengeluarkan kata-kata yang tidak berkenan lebih baik saya membiarkan Anda berimajinasi sendiri.

7.    NON-KASTA

Orang-orang di sini tidak layak disebut kasta, karena meresa sesungguhnya tidak mengerjakan tugas modulnya namun masih nekat datang di diskusi tutorial. Hanya orang dengan kemampuan menghilang/invisibility yang mampu masuk golongan non-kasta ini, mereka hampir punah, bahkan seumur hidup di FK saya tidak pernah menemui mereka. Ada kabar burung bahwa mereka ini sebenarnya ninja, ada pula yang bilang bahwa mereka mewarisi jubah Harry Potter. Boleh percaya, boleh tidak.

 

Itulah uraian singkat saya tentang perkastaan di dunia per-tugasmodul-an. Mungkin ada yang setuju, atau mungkin ada yang dalam hatinya masih mempunyai ide untuk memunculkan kasta-kasta lain lagi. Saya percaya diantara para pembaca sekarang sedang introspeksi dirinya masing-masing: saya masuk kasta yang mana ya? Bila ada pihak-pihak yang tersinggung dengan tulisan saya saya mohon maaf sebesar-besarnya, ini semua hanya bermaksud menghibur.

Satu pesan saya: dengan cara apapun kita mengerjakan modul apabila waktu diskusi kita sia-siakan dengan tidak fokus dan tidak mengejar ilmu, hasilnya sama saja NOL.

 

Sebuah renungan dari Surat Paulus kepada jemaat di Roma

5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

 

Selamat belajar. Hidup Mahasiswa! Saktilah Pancasila! God Transform Indonesia!

This is My First Step :)

Hmm.. bingung mau ngisi apa nih.. Saya isi pake biodata untuk buku Kastrat ISMKI tahun 2011 aja deh yaa.. :)

Agra Dhira Narendraputra. Saya adalah seorang pria kelahiran Jogja, 20 November 1991 dan berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, angkatan 2009. Berkuliah di Malang, ngekos sendiri, jauh dari keluarga dan teman-teman SMA awalnya merangsang saya untuk mencari pelampiasan dengan cara berorganisasi. Pertama-tama buat ngisi waktu luang dan akhirnya saya kecemplung di Kastrat. Bisa dibilang Kastrat adalah turning point di dalam perjalanan hidup saya. Dari seorang Agra yang apatis-egois-anti politik, jadi seorang Agra yang kritis dan dituntut untuk memikirkan orang banyak, memikirkan Indonesia. Sampai pada suatu saat saya menyadari bahwa saya telah dilahirkan di Kastrat. Selain di Kastrat BEM FKUB, saya juga aktif melayani di Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) FKUB, sebagai anggota Lembaga Kesehatan Mahasiswa (Lakesma) FKUB dan Lembaga Studi Ilmiah Mahasiswa (LSIM) FKUB serta sedikit-banyak berkecimpung di Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (IKASTARA) Cabang Malang. Tiga tahun menjadi kastraters membuat saya bercita-cita menjadi stakeholder kebijakan kesehatan di Indonesia. Motto saya (saat nulis biodata ini): “Hidup berorientasi visi, menjadi terang dan garam.” Salah satu tokoh yang saya kagumi, Dr. J Leimena, pernah berkata: “Politik bukanlah alat kekuasaan, namun merupakan etika untuk melayani.” Disela berbagai aktivitas saya sebagai mahasiswa dan aktivis, saya menyempatkan diri menikmati hobi saya: FB-an, nonton TV (dengan produktif), dan jelajah alam. Saya dapat dihubungi di 081915445469, 27c86125, atau agradisini@gmail.com. Bagi yang mau menengok kamar kos saya di Jalan Kesumba 2B Malang saya dengan senang hati akan menyambut, tapi nggak janji menjamu. Hehe..

Semua bisa meng-kaji, semua bisa meng-advokasi, semua bisa mem-propaganda. Namun, hanya sedikit yang masih memiliki harta mahasiswa yang paling berharga, yaitu idealisme. NKRI harga matinya, Pancasila yang jadi kepribadiannya, Bhinneka Tunggal Ika yang jadi jiwanya.

 

Bersama teman-teman pengurus Komisi 1 PMK FKUB saat acara Dies Natalis FKUB / FKUB Awards 2011, Sabtu, 19 November 2011. (Agra pake batik putih berdiri paling kanan)